Facebook
NederlandsEnglishMelajuIndonesia
Delen |

Home  

Selamat datang di situs resmi pemerintah Republik Maluku Selatan (RMS) di pengasingan. Pemerintah darurat RMS ini berkedudukan di Belanda sejak tahun 1966, 

Melalui situs ini, dapat kita peroleh keterangan dan informasi mengenai RMS -dimulai dari asal-usul berdirinya dan juga bagaimana usaha serta perjuangannya untuk memperoleh kedaulatan atas kemerdekaannya kembali.



Surat terbuka kepada Royal Dutch Shell (29-03-2012)

Pemerintah Belanda Adu Bangsa Maluku (10-10-2011)

Pemerintah Belanda dan RI berusaha melumpuhkan RMS melalui HAKIM Belanda

Pidato Kepala Negara sehabis sidang naik banding 10-10-2011



 

Proklamasi Kemerdekaan

Lambang Negara

Bendera Maluku Selatan

Lagu Kebangsaan Maluku Selatan

60 tahun dalam ketidakbebasan dan penindasan


 

Proklamasi kemerdekaan Maluku Selatan

Dalam rangka memenuhi keinginan yang sungguh, tuntutan, dan desakan rakyat Maluku Selatan, maka dengan ini kami memproklamirkan KEMERDEKAAN MALUKU SELATAN, de facto de jure, yang berbentuk Republik, lepas dari segala hubungan ketatanegaraan Negara Indonesia Timur dan R.I.S., dikarenakan N.I.T. sudah tidak sanggup lagi mempertahankan kedudukannya sebagai Negara Bagian -sesuai dengan peraturan-peraturan Muktamar Denpasar yang masih sah berlaku, dan juga sesuai dengan keputusan Dewan Maluku Selatan pada tanggal 11 Maret 1947, sedangkan R.I.S. sudah bertindak bertentangan dengan keputusan-keputusan K.M.B. dan bahkan Undang-Undang Dasar R.I.S. sendiri.

Ambon, 25 April 1950

Pemerintah Maluku-Selatan

(J.H. MANUHUTU)

(A. WAIRISAL)

Proklamasi ini diumumkan kepada Nederlandse Hoge Commissaris (Komisaris Tinggi Belanda) di Jakarta pada tanggal 26 April 1950 melalui telegraf. Terjemahan dari teks ini juga dicatat dalam Nota omtrent de ontwikkeling in Indonesie (Catatan tentang pembangunan di Indonesia) yang diserahkan oleh Pemerintah Belanda kepada Tweede Kamer Staten –Generaal (dewan perwakilan rakyat) pada tanggal 23 Mei 1950.


Lambang Negara


 

Lambang resmi negara Republik Maluku Selatan –seperti yang ditetapkan pada tanggal 9 Mei 1950 oleh pemerintah RMS -memperlihatkan seekor burung pombo (merpati) yang hendak terbang dengan sayap setengah terbuka serta dalam paruhnya tersemat sebuah tangkai lambang perdamaian. Di dadanya terlukis gambar parang, salawaku (perisai), dan tombak.

Burung pombo mempunyai peranan penting dalam sejarah Maluku Selatan. Berdasarkan salah satu legenda (cerita rakyat) Maluku Selatan, diceritakan bahwa seorang tokoh Maluku yang terkenal bernama Kapitan Jonker beserta istrinya menjelma menjadi dua ekor pombo putih pada akhir hidup mereka. Kedua burung pombo putih tersebut terbang dari Jakarta, di pulau Jawa, pulang ke Maluku Selatan. Sampai sekarang, jika terlihat dua ekor pombo putih sedang terbang, hal itu dianggap sebagai sebuah pertanda keberuntungan.


Bendera Maluku Selatan

Bendera Republik Maluku Selatan (Benang Raja) adalah perlambang negara dan persatuan rakyat. Empat corak warna; biru, putih, hijau, dan merah tersebut dipilih bukan tanpa maksud. Justru masing-masing warna memiliki makna secara mendalam:

Biru
Warna biru melambangkan lautan Maluku Selatan yang penuh dengan kekayaan alam, seperti ikan, mutiara, teripang, dan rumput laut. Laut dan kekayaan di dalamnya berperan penting dalam kehidupan sehari-hari di Maluku Selatan. Warna biru melambangkan pula kesetiaan rakyat Maluku Selatan kepada tanah air mereka.

Putih
Warna putih melambangkan kemurnian dan kesucian perjuangan rakyat Maluku Selatan serta kedamaian yang selalu ingin dihadirkan oleh rakyatnya. Warna putih juga menggambarkan pantai-pantai di Maluku Selatan, di mana ombak berdebur tak hentinya.

Hijau
Warna hijau melambangkan kesuburan dari kepulauan Maluku Selatan sebagai tempat tumbuhnya hasil-hasil alam, di antara lain sagu, kelapa, pala, dan cengkeh –yang merupakan tumbuhan khas Maluku.

Merah
Warna merah melambangkan darah rakyat Maluku Selatan yang telah tertumpah dalam perjuangan menghadapi para penjajah. Warna merah yang adalah warna pokok ini merupakan “asa” –asal mula segala aspek kehidupan bertumbuh. Yang terkenal pula adalah “kain berang”, kain berwarna merah yang dipakai sebagai ikat kepala ataupun dipakai melingkari leher atau tangan. Warna ini melambangan keberanian rakyat Maluku Selatan.

Ukuran bendera ini ialah 2 : 3, dibagi ke dalam empat bagian yang berbentuk sebagai berikut (dari kiri ke kanan): biru 1/9 bagian, putih 1/9 bagian, hijau 1/9 bagian, dan merah 6/9 bagian.


Lagu Kebangsaan : Maluku Tanah Airku

Maluku Tanah Airku
Tanah tumpah darahku
Ku berbakti kepadamu
Selama hari hidupku
Engkaulah Pusaka Raja
Jang leluhur dan teguh
Aku djundjung selamanja
Hingga sampai adjalku
Aku ingat terlebih
Sedjarahmu jang pedih

Maluku Tanah Airku
Tanah datuk datukku
Atas Via Dolorosa
Engkau hidup merdeka
Putra putri jang se djati
Tumpah darah bagimu
Ku bersumpah trus berbakti
Serta tanggung nasibmu
Aku lindung terlebih
Sedjarahmu jang pedih

Mena Muria printah leluhur
Segnap djiwaku seru
Bersegralah membelamu
Sepri laskar jang djudjur
Dengan prisai dan imanku
Bahkan harap jang teguh
Ku berkurban dan berasa
Karna dikau ibuku
Ku doakan terlebih
Mena Muria hiduplah

Musik:

» Download

Midifile:

» Download


60 tahun dalam ketidakbebasan dan penindasan

Perjuangan kemerdekaan Republik Maluku Selatan (RMS) yang diawali dengan proklamasi tanggal 25 April 1950 ini berlangsung terus sampai saat ini. Selama 6 dasawarsa ini Republik Indonesia sebagai penjajah telah menduduki dan merampas wiayah dan kekayaan Maluku Selatan. Hal ini bermaksud agar kawasan Maluku menjadi tertinggal, miskin, serta tanpa ada perkembangan apapun. Meskipun Indonesia memberi kesan seolah-olah adalah negara hukum yang beretika dan demokratis, pada kenyataannya tidak terbukti ada demokrasi sama sekali di dalamnya. Syarat terpenting agar dapat dikatakan sebagai negara hukum yang demokratis adalah adanya hak mengungkapkan pendapat. Sementara di negara Indonesia ini belum ada kebebasan mengeluarkan pendapat sama sekali.

Orang-orang Maluku yang dengan berani menyatakan bahwa mereka pendukung RMS pasti dijatuhi hukuman. Mereka itu serta kaum keluarganya ada di dalam kesulitan dalam hidup bermasyarakat. Barangsiapa berani mengeluarkan pendapat, pada umumnya dijatuhi hukuman berat oleh proses peradilan yang berat sebelah dan tidak adil.

Neokolonialisme

Dalam beberapa dasawarsa yang baru lewat ini Indonesia dikenal sebagai negara di mana sebuah rezim memperkaya diri sendiri dengan memakai berbagai cara, terutama melalui kekuatan militer untuk mempertahankan kekuasaan yang dilakukan oleh pemerintah pusat di Jakarta.

Tanah Maluku bertahun-tahun dirampas oleh penjajahan gaya baru ini. Kekayaan alam di tanah Maluku dirampas, seperti contohnya kekayaan laut yang dijual kepada perusahaan-perusahaan asing. Demikian pula yang terjadi pada hutan tropisnya. Di sana penebangan kayu besar-besaran dilakukan dan mengakibatkan pengikisan tanah. Hal ini menyebabkan banyak kali terjadinya tanah longsor.

Sebagian besar rakyat Maluku hidup dalam kemiskinan. Demi mencari makan untuk menyambung hidup, banyak dari mereka terpaksa menjual tanah-tanah pusaka yang sudah beratus-ratus tahun merupakan warisan milik keluarga mereka kepada para spekulan. Sungguh disayangkan banyak dari mereka tidak memiliki pekerjaan lain, sehingga mereka itu tidak memiliki pendapatan sama sekali untuk masa depannya. Padahal mereka hidup di atas tanah yang seharusnya memberikan mereka makanan untuk hidup sehari-hari.

Memang istilah “genosida” (pembasmian etnis) tidak semudah itu dapat dipakai sebagai suatu tuduhan, Akan tetapi kebijaksanaan transmigrasi yang sudah bertahun-tahun dilakukan di Maluku rupanya bermaksud untuk melenyapkan adat-istiadat setempat di Maluku. Lalu oleh karena kurangnya kesempatan kerja di sana, maka anak-anak Maluku yang telah menyelesaikan pendidikan tinggi terpaksa mencari lapangan pekerjaan di luar Maluku. Kenyataan yang lain yang ditemukan adalah bahwa perlahan-lahan budaya dan praktek korupsi dianggap seperti hal biasa di dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Maluku.

Tragedi Terbesar

Pada tahun 1999 terjadi tragedi terbesar di wilayah Maluku, yaitu timbulnya situasi perang yang kerap disebut sebagai ‘kerusuhan’. Dalam konflik berdarah yang diskenariokan oleh pemerintah pusat di Jakarta ini, kaum Islam dan kaum Kristen saling berperang selama hampir 4 tahun. Rupanya situasi konflik di Maluku ini juga menjadi medan pertempuran yang kompleks serta melibatkan para penguasa di Jakarta serta para pengikutnya. Mereka ini adalah partai-partai politik serta para pemimpinnya yang dikenal korup –terutama dari Golongan Karya, para pengikut mantan Presiden Soeharto, Jenderal Wiranto, serta elite militer lainnya, kaum fundamentalis Islam, dan banyak pihak lainnya.

Penghargaan Kembali dan Pengembalian Pedoman

Namun demikian, ternyata ada dampak positif yang dapat diperoleh akibat kerusuhan tersebut, yaitu dengan diterapkan penghargaan kembali dan pengembalian pedoman (orientasi) adat-istiadat dan budaya Maluku di tengah masyarakat setempat. Pada saat itulah masyarakat Maluku menyadari pentingnya dan kokohnya adat-istiadat dan kebudayaan Maluku. Banyak desa (negeri) yang berniat untuk melaksanakan adat-istiadat kembali. Hal yang sama pun dilakukan dalam meninjau dan menghargai kembali cita-cita perjuangan Republik Maluku Selatan.

Kembali pada saat ini. Banyak orang-orang Maluku di Maluku saat menggunakan hak asasi mereka untuk berbicara dan mengeluarkan pendapat, mereka ditahan, dianiaya dan disiksa serta dijatuhi hukuman penjara bertahun-tahun. Hal-hal tersebut mereka alami hanya karena mereka berani mengeluarkan pendapat menuntut hak asasi mereka mendukung Republik Maluku Selatan yang sah merdeka dan berdaulat.

Tidak ada seorang pun yang boleh berdiam saja dan membiarkan ketidakadilan menghalangi perjuangan kemerdekaan RMS tanpa berbuat sesuatu.

Perjuangan RMS merupakan perjuangan yang sah dan mulia, serta harus diakui dan didukung oleh dunia internasional yang bebas dan demokratis.



Delen |
Go to top