{"id":8212,"date":"2026-07-08T11:59:53","date_gmt":"2026-07-08T10:59:53","guid":{"rendered":"https:\/\/www.republikmalukuselatan.nl\/?p=8212"},"modified":"2026-07-08T12:00:00","modified_gmt":"2026-07-08T11:00:00","slug":"interview-titastory-presiden-wattilete-belanda-meminta-maaf-rms-menuntut-sejarah-dibuka-kembali","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.republikmalukuselatan.nl\/id\/interview-titastory-presiden-wattilete-belanda-meminta-maaf-rms-menuntut-sejarah-dibuka-kembali\/","title":{"rendered":"Interview Titastory &#038; presiden Wattilete: Belanda Meminta Maaf, RMS Menuntut Sejarah Dibuka Kembali"},"content":{"rendered":"<p>[et_pb_section fb_built=&#8221;1&#8243; admin_label=&#8221;section&#8221; _builder_version=&#8221;4.16&#8243; global_colors_info=&#8221;{}&#8221;][et_pb_row admin_label=&#8221;row&#8221; _builder_version=&#8221;4.16&#8243; background_size=&#8221;initial&#8221; background_position=&#8221;top_left&#8221; background_repeat=&#8221;repeat&#8221; global_colors_info=&#8221;{}&#8221;][et_pb_column type=&#8221;4_4&#8243; _builder_version=&#8221;4.16&#8243; custom_padding=&#8221;|||&#8221; global_colors_info=&#8221;{}&#8221; custom_padding__hover=&#8221;|||&#8221;][et_pb_text _builder_version=&#8221;4.27.4&#8243; _module_preset=&#8221;default&#8221; hover_enabled=&#8221;0&#8243; sticky_enabled=&#8221;0&#8243;]<\/p>\n<blockquote>\n<p>Pada tanggal 5 Juli 2026, Titastory menerbitkan wawancara dengan presiden Wattilete mengenai permintaan maaf Perdana Menteri Belanda, Rob Jetten, kepada masyarakat Maluku. Kini, situs web Titastory telah ditangguhkan sehingga wawancara tersebut tidak lagi dapat diakses melalui sumber aslinya. Demi menjaga agar dokumen ini tetap lestari dan dapat diakses oleh masyarakat luas, Pemerintah Republik Maluku Selatan (RMS) di Pengasingan menerbitkannya kembali secara utuh. Hilangnya publikasi ini patut menjadi perhatian dan menimbulkan pertanyaan mengenai penghormatan terhadap kebebasan berpendapat serta kebebasan pers di Indonesia.<\/p>\n<\/blockquote>\n<p>[\/et_pb_text][et_pb_image _builder_version=&#8221;4.27.4&#8243; _module_preset=&#8221;default&#8221; src=&#8221;https:\/\/www.republikmalukuselatan.nl\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/titastory-512&#215;194.jpg&#8221; hover_enabled=&#8221;0&#8243; sticky_enabled=&#8221;0&#8243;][\/et_pb_image][et_pb_text _builder_version=&#8221;4.27.4&#8243; _module_preset=&#8221;default&#8221; hover_enabled=&#8221;0&#8243; sticky_enabled=&#8221;0&#8243;]<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><strong>Wawancara Khusus Titastory.id bersama Mr. J.G. Wattilete, Presiden Pemerintah Republik Maluku Selatan (RMS) dalam Pengasingan<\/strong><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><strong>Oleh: Redaksi titastory.id<\/strong><\/p>\n<p><strong>Rotterdam, Belanda<\/strong> \u2014 Permintaan maaf Perdana Menteri Belanda Rob Jetten kepada komunitas Maluku pada peringatan nasional masyarakat Maluku, 21 Juni 2026, menjadi salah satu momen paling penting dalam hubungan Belanda dan masyarakat Maluku dalam lebih dari tujuh dekade terakhir. Di hadapan ribuan warga Maluku di Rotterdam, Jetten mengakui negara Belanda telah gagal memperlakukan para mantan prajurit KNIL asal Maluku beserta keluarga mereka secara adil setelah kedatangan mereka ke Belanda pada 1951. Ia menyebut adanya pemecatan secara tidak manusiawi, penempatan di kamp-kamp yang tidak layak, serta luka sejarah yang diwariskan lintas generasi.<\/p>\n<p>Namun, bagi Pemerintah Republik Maluku Selatan (RMS) dalam pengasingan, permintaan maaf tersebut dipandang sebagai\u00a0awal, bukan akhir, dari upaya mengurai sejarah yang selama ini dianggap belum pernah diselesaikan secara utuh.<\/p>\n<p>Bagi Presiden Pemerintah RMS dalam pengasingan,\u00a0Mr. Johannes Gerardus (J.G.) Wattilete, pengakuan Belanda terhadap penderitaan masyarakat Maluku di negeri itu memang penting. Akan tetapi, menurutnya, akar persoalan justru berada jauh sebelum tahun 1951, yakni pada proses dekolonisasi Hindia Belanda, pembentukan Negara Indonesia Timur (NIT), pembubaran Republik Indonesia Serikat (RIS), hingga Proklamasi Republik Maluku Selatan pada 25 April 1950 dan operasi militer yang menyusul sesudahnya.<\/p>\n<p><strong>Profil Narasumber<\/strong><\/p>\n<p>Johannes Gerardus Wattilete merupakan Presiden Pemerintah Republik Maluku Selatan (RMS) dalam pengasingan sejak 2010. Ia menggantikan mendiang Frans Tutuhatunewa dan menjadi salah satu figur utama yang mewakili pemerintahan RMS di diaspora.<\/p>\n<p>Lahir di Bemmel, Belanda, dari ayah berdarah Maluku dan ibu berkebangsaan Belanda, Wattilete menempuh pendidikan hukum di\u00a0Radboud Universiteit Nijmegen\u00a0dan kini berprofesi sebagai advokat. Ia mendirikan firma hukum\u00a0Wattilete Advocaten\u00a0yang berkantor di Amsterdam.<\/p>\n<p>Di luar profesinya sebagai pengacara, Wattilete dikenal aktif memperjuangkan isu hak menentukan nasib sendiri (self-determination), keadilan transisional, serta pengakuan terhadap sejarah masyarakat Maluku melalui jalur diplomasi, advokasi hukum, dan forum-forum internasional. Di bawah kepemimpinannya, Pemerintah RMS dalam pengasingan menegaskan komitmennya untuk menempuh perjuangan secara damai melalui dialog, penelitian sejarah, dan mekanisme hukum internasional.<\/p>\n<p>Dalam pidatonya di Rotterdam, Wattilete menegaskan bahwa sejarah bangsa Maluku tidak dapat dipahami hanya dari kisah kedatangan sekitar 12 ribu mantan prajurit KNIL dan keluarganya ke Belanda. Menurutnya, sejarah tersebut harus ditelusuri kembali kepada berbagai keputusan politik dan hukum internasional yang mengiringi proses penyerahan kedaulatan pada 1949 serta perubahan tatanan ketatanegaraan di Indonesia pada 1950.<\/p>\n<p>Wattilete juga menilai bahwa pertanyaan mengenai status politik Maluku, hak menentukan nasib sendiri (<em>right to self-determination<\/em>), serta tanggung jawab historis Belanda maupun Indonesia masih layak dibicarakan secara terbuka melalui penelitian yang independen. Ia berpandangan bahwa sejarah tidak boleh berhenti pada narasi yang dibentuk oleh pihak yang memenangkan konflik, melainkan harus diuji melalui kajian akademik, arsip, dan hukum internasional.<\/p>\n<p>Di sisi lain, ia menegaskan bahwa perjuangan Pemerintah RMS saat ini ditempuh melalui jalur damai, demokratis, dan berdasarkan hukum internasional. Baginya, dialog, penelitian sejarah yang independen, dan penghormatan terhadap hak asasi manusia merupakan jalan yang lebih bermartabat dibandingkan dengan kekerasan.<\/p>\n<p>Dalam wawancara khusus ini,\u00a0Titastory.id\u00a0berkesempatan mengajukan serangkaian pertanyaan kepada\u00a0Mr. J.G. Wattilete, Presiden Pemerintah Republik Maluku Selatan (RMS) dalam pengasingan, melalui korespondensi surat elektronik (e-mail) yang dikirim ke alamat pribadinya pada\u00a027 Juni 2026.\u00a0Melalui jawaban yang dikirimkan lewat surat elektronik,\u00a0Wattilete mengatakan makna permintaan maaf Pemerintah Belanda kepada komunitas Maluku, pandanganannya mengenai peristiwa sejarah 25 April 1950, hubungan Indonesia dan Maluku, posisi RMS di tengah dinamika geopolitik kawasan Indo-Pasifik, hingga harapannya agar generasi muda Maluku tetap mengenal sejarah bangsanya tanpa meninggalkan jalan damai sebagai prinsip perjuangan.\u00a0Berikut petikan lengkap wawancara tersebut.<\/p>\n<p><em>Berikut petikan lengkap wawancara tersebut.<\/em><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><strong>Titastory.id<\/strong><\/p>\n<p><strong>Perdana Menteri Belanda Rob Jetten telah menyampaikan permintaan maaf kepada masyarakat Maluku atas perlakuan pemerintah Belanda terhadap generasi pertama masyarakat Maluku yang tiba di Belanda pada 1951. Apa makna permintaan maaf itu bagi Pemerintah RMS?<\/strong><\/p>\n<p><strong>Mr. J.G. Wattilete:<\/strong><\/p>\n<p><em>Pertama-tama, kami menghargai bahwa akhirnya Pemerintah Belanda mengakui adanya ketidakadilan yang dialami generasi pertama masyarakat Maluku di Belanda. Pengakuan seperti ini seharusnya memang sudah dilakukan sejak lama. Banyak keluarga Maluku hidup selama puluhan tahun dengan beban sejarah yang tidak pernah diakui secara resmi oleh negara.<\/em><\/p>\n<p><em>Namun, bagi kami, permintaan maaf itu belum menyentuh akar persoalan. Permintaan maaf tersebut terutama berbicara mengenai apa yang terjadi setelah masyarakat Maluku tiba di Belanda pada tahun 1951. Padahal sejarah bangsa Maluku tidak dimulai di Rotterdam atau di kamp-kamp penampungan di Belanda.<\/em><\/p>\n<p><em>Sejarah itu bermula di Maluku sendiri.<\/em><\/p>\n<p><em>Karena itu, kami melihat permintaan maaf ini sebagai sebuah langkah awal yang penting, tetapi bukan akhir dari proses pencarian kebenaran sejarah.<\/em><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><strong>Titastory.id:<\/strong><\/p>\n<p><strong>Dalam pidato Anda di Rotterdam, Anda mengatakan bahwa sejarah Maluku tidak dimulai pada tahun 1951. Apa yang Anda maksud dengan pernyataan tersebut?<\/strong><\/p>\n<p><strong>Mr. J.G. Wattilete:<\/strong><\/p>\n<p><em>Banyak orang memahami sejarah masyarakat Maluku di Belanda hanya dari kisah kedatangan para mantan prajurit KNIL beserta keluarganya pada tahun 1951. Padahal sebelum itu telah terjadi rangkaian peristiwa politik yang sangat menentukan.<\/em><\/p>\n<p><em>Kita harus kembali melihat proses dekolonisasi Hindia Belanda, pembentukan Republik Indonesia Serikat, keberadaan Negara Indonesia Timur, kemudian pembongkaran struktur federal tersebut, hingga Proklamasi Republik Maluku Selatan pada 25 April 1950.<\/em><\/p>\n<p><em>Tanpa memahami rangkaian sejarah itu, sulit memahami mengapa ribuan orang Maluku akhirnya dipindahkan ke Belanda.<\/em><\/p>\n<p><em>Karena itu, saya selalu mengatakan bahwa penelitian sejarah tidak boleh berhenti pada tahun 1951, melainkan harus kembali kepada peristiwa-peristiwa yang terjadi pada 1949 dan 1950.<\/em><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><strong>Titastory.id:<\/strong><\/p>\n<p><strong>Pemerintah Indonesia hingga kini tetap menyebut RMS sebagai gerakan separatis. Bagaimana Anda menanggapi pandangan tersebut?<\/strong><\/p>\n<p><strong>Mr. J.G. Wattilete:<\/strong><\/p>\n<p><em>Kami memahami bahwa Pemerintah Indonesia memiliki pandangan sejarahnya sendiri.<\/em><\/p>\n<p><em>Namun, dari sudut pandang kami, istilah &#8220;separatis&#8221; tidak menggambarkan konteks sejarah secara utuh.<\/em><\/p>\n<p><em>Istilah tersebut memberikan kesan seolah-olah Maluku pernah secara sukarela menjadi bagian dari negara kesatuan Indonesia yang telah mapan, kemudian berusaha memisahkan diri.<\/em><\/p>\n<p><em>Padahal ketika Republik Maluku Selatan diproklamasikan pada tanggal 25 April 1950, negara kesatuan Indonesia sebagaimana kita kenal sekarang belum terbentuk. Yang masih berlaku saat itu adalah struktur federal Republik Indonesia Serikat.<\/em><\/p>\n<p><em>Karena itu, menurut pandangan kami, persoalan ini masih merupakan bagian dari proses dekolonisasi yang belum pernah dikaji secara independen menurut hukum internasional.<\/em><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><strong>Titastory.id:<\/strong><\/p>\n<p><strong>Apakah karena itu RMS terus mendorong penelitian sejarah secara independen?<\/strong><\/p>\n<p><strong>Mr. J.G. Wattilete:<\/strong><\/p>\n<p><em>Betul.<\/em><\/p>\n<p><em>Kami tidak meminta orang menerima begitu saja pandangan RMS.<\/em><\/p>\n<p><em>Yang kami minta justru sangat sederhana.<\/em><\/p>\n<p><em>Biarkan sejarah diteliti secara independen.<\/em><\/p>\n<p><em>Biarkan arsip dibuka.<\/em><\/p>\n<p><em>Biarkan para sejarawan bekerja tanpa tekanan politik.<\/em><\/p>\n<p><em>Perjanjian-perjanjian tahun 1949, pembentukan Negara Indonesia Timur, pembubaran Republik Indonesia Serikat, hingga berbagai keputusan yang diambil pada masa itu seharusnya dapat diteliti kembali secara terbuka.<\/em><\/p>\n<p><em>Kami percaya bahwa kebenaran sejarah tidak boleh ditentukan oleh siapa yang menang dalam konflik.<\/em><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><strong>Titastory.id:<\/strong><\/p>\n<p><strong>Dalam pidato Anda juga disebutkan mengenai hak untuk menentukan nasib sendiri atau self-determination. Mengapa isu itu masih penting hingga hari ini?<\/strong><\/p>\n<p><strong>Mr. J.G. Wattilete:<\/strong><\/p>\n<p><em>Karena hak menentukan nasib sendiri merupakan prinsip dasar dalam hukum internasional.<\/em><\/p>\n<p><em>Hak tersebut diakui oleh Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa maupun berbagai perjanjian internasional mengenai hak asasi manusia.<\/em><\/p>\n<p><em>Menurut kami, hak tersebut tidak kehilangan maknanya hanya karena waktu telah berlalu.<\/em><\/p>\n<p><em>Hak itu juga tidak hanya berlaku ketika negara-negara besar menghendakinya.<\/em><\/p>\n<p><em>Justru hak tersebut penting ketika suatu bangsa merasa tidak pernah memperoleh kesempatan untuk menentukan masa depannya secara bebas.<\/em><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><strong>Titastory.id:<\/strong><\/p>\n<p><strong>Apakah RMS masih melihat jalan damai sebagai satu-satunya pilihan perjuangan?<\/strong><\/p>\n<p><strong>Mr. J.G. Wattilete:<\/strong><\/p>\n<p><em>Ya.<\/em><\/p>\n<p><em>Saya ingin menegaskan bahwa perjuangan kami adalah perjuangan damai.<\/em><\/p>\n<p><em>Kami percaya pada dialog.<\/em><\/p>\n<p><em>Kami percaya pada demokrasi.<\/em><\/p>\n<p><em>Kami percaya pada hukum internasional.<\/em><\/p>\n<p><em>Saya selalu mengatakan bahwa perang hanya akan membawa penderitaan baru bagi masyarakat.<\/em><\/p>\n<p><em>Karena itu, kami lebih memilih jalan dialog, penelitian sejarah yang independen, serta berbagai mekanisme hukum internasional dibandingkan dengan kekerasan.<\/em><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><strong>Titastory.id:<\/strong><\/p>\n<p><strong>Anda bahkan menyebut Mahkamah Internasional di Den Haag dalam pidato Anda. Apa yang sebenarnya diharapkan RMS?<\/strong><\/p>\n<p><strong>Mr. J.G. Wattilete:<\/strong><\/p>\n<p><em>Kami berharap apabila memang semua pihak yakin terhadap dasar sejarah dan hukum masing-masing, maka tidak perlu ada ketakutan terhadap penilaian yang independen.<\/em><\/p>\n<p><em>Mahkamah Internasional adalah salah satu lembaga yang memiliki legitimasi untuk menilai berbagai persoalan hukum antarnegara.<\/em><\/p>\n<p><em>Kami tidak meminta keputusan berpihak kepada RMS.<\/em><\/p>\n<p><em>Kami hanya berharap persoalan sejarah dan hukumnya dapat dikaji secara objektif.<\/em><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><strong>Titastory.id:<\/strong><\/p>\n<p><strong>Menurut Anda, bagaimana seharusnya Pemerintah Indonesia merespons persoalan sejarah ini?<\/strong><\/p>\n<p><strong>Mr. J.G. Wattilete:<\/strong><\/p>\n<p><em>Saya selalu mengatakan satu hal. Jangan takut pada kebenaran.<\/em><\/p>\n<p><em>Negara yang yakin terhadap sejarah dan dasar hukumnya tidak perlu takut terhadap penelitian yang terbuka.<\/em><\/p>\n<p><em>Dialog jauh lebih baik daripada saling menutup diri.<\/em><\/p>\n<p><em>Pada akhirnya kita semua menginginkan masa depan yang damai.<\/em><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><strong>Titastory.id:<\/strong><\/p>\n<p><em>Dalam pidato Anda, isu sejarah juga dikaitkan dengan kondisi sosial ekonomi Maluku saat ini. Mengapa?<\/em><\/p>\n<p><em>Mr. J.G. Wattilete<\/em><\/p>\n<p><em>Karena bagi kami perjuangan bukan hanya soal masa lalu.<\/em><\/p>\n<p><em>Ini juga soal masa depan.<\/em><\/p>\n<p><em>Maluku memiliki kekayaan laut, perikanan, energi, mineral, dan posisi strategis di kawasan Indo-Pasifik.<\/em><\/p>\n<p><em>Namun, kenyataannya masih banyak masyarakat yang hidup dalam kemiskinan.<\/em><\/p>\n<p><em>Masih banyak anak muda yang kesulitan memperoleh pendidikan dan pekerjaan yang layak.<\/em><\/p>\n<p><em>Karena itu, saya mengatakan bahwa Maluku sebenarnya bukan miskin sumber daya.<\/em><\/p>\n<p><em>Yang menjadi persoalan adalah siapa yang memiliki kewenangan untuk menentukan pemanfaatan kekayaan tersebut.<\/em><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><strong>Titastory.id:<\/strong><\/p>\n<p><em>Apa pesan Anda kepada generasi muda Maluku, baik yang tinggal di Indonesia maupun di Belanda?<\/em><\/p>\n<p><em>Mr. J.G. Wattilete<\/em><\/p>\n<p><em>Saya berharap generasi muda tidak melupakan sejarahnya.<\/em><\/p>\n<p><em>Namun, mengenal sejarah bukan berarti membenci pihak lain.<\/em><\/p>\n<p><em>Justru sejarah harus menjadi pelajaran agar kita mampu membangun masa depan yang lebih baik.<\/em><\/p>\n<p><em>Saya percaya generasi muda Maluku memiliki kemampuan besar.<\/em><\/p>\n<p><em>Mereka harus berani bermimpi, berani belajar, menjaga persatuan, dan terus memperjuangkan masa depan melalui jalan damai.<\/em><\/p>\n<p><em>Perjuangan apa pun akan kehilangan makna apabila tidak disertai penghormatan terhadap martabat manusia.<\/em><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Di penghujung wawancara,\u00a0Mr. J.G. Wattilete\u00a0menegaskan bahwa, menurut pandangan Pemerintah RMS dalam pengasingan, permintaan maaf Pemerintah Belanda merupakan langkah penting dalam mengakui penderitaan yang dialami generasi pertama masyarakat Maluku di Belanda. Namun, menurutnya, proses rekonsiliasi sejarah belum dapat dikatakan selesai selama rangkaian peristiwa dekolonisasi, Proklamasi Republik Maluku Selatan, serta dinamika politik yang terjadi pada 1949\u20131950 belum ditelaah secara terbuka melalui penelitian yang independen dan objektif.<\/p>\n<p>&#8220;<strong><em>Perjuangan kami bukanlah perjuangan untuk menghidupkan permusuhan, melainkan perjuangan agar sejarah dipahami secara jujur dan masa depan dibangun melalui jalan damai, dialog, serta penghormatan terhadap hak asasi manusia<\/em><\/strong>,&#8221;\u00a0tulis Wattilete dalam jawaban tertulis yang dikirimkan kepada\u00a0Titastory.id\u00a0melalui surat elektronik.<\/p>\n<p>Sumber: <a href=\"https:\/\/titastory.id\/belanda-meminta-maaf-rms-menuntut-sejarah-dibuka-kembali\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">https:\/\/titastory.id\/belanda-meminta-maaf-rms-menuntut-sejarah-dibuka-kembali<\/a><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>[\/et_pb_text][\/et_pb_column][\/et_pb_row][\/et_pb_section]<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Pada tanggal 5 Juli 2026, Titastory menerbitkan wawancara dengan presiden Wattilete mengenai permintaan maaf Perdana Menteri Belanda, Rob Jetten, kepada masyarakat Maluku. Kini, situs web Titastory telah ditangguhkan sehingga wawancara tersebut tidak lagi dapat diakses melalui sumber aslinya. Demi menjaga agar dokumen ini tetap lestari dan dapat diakses oleh masyarakat luas, Pemerintah Republik Maluku Selatan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":4,"featured_media":8219,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_et_pb_use_builder":"on","_et_pb_old_content":"","_et_gb_content_width":"","_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":""},"categories":[2],"tags":[],"class_list":["post-8212","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-uncategorized-id"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v26.5 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<title>Interview Titastory &amp; presiden Wattilete: Belanda Meminta Maaf, RMS Menuntut Sejarah Dibuka Kembali - Republik Maluku Selatan<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.republikmalukuselatan.nl\/id\/interview-titastory-presiden-wattilete-belanda-meminta-maaf-rms-menuntut-sejarah-dibuka-kembali\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Interview Titastory &amp; presiden Wattilete: Belanda Meminta Maaf, RMS Menuntut Sejarah Dibuka Kembali - Republik Maluku Selatan\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Pada tanggal 5 Juli 2026, Titastory menerbitkan wawancara dengan presiden Wattilete mengenai permintaan maaf Perdana Menteri Belanda, Rob Jetten, kepada masyarakat Maluku. Kini, situs web Titastory telah ditangguhkan sehingga wawancara tersebut tidak lagi dapat diakses melalui sumber aslinya. Demi menjaga agar dokumen ini tetap lestari dan dapat diakses oleh masyarakat luas, Pemerintah Republik Maluku Selatan [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.republikmalukuselatan.nl\/id\/interview-titastory-presiden-wattilete-belanda-meminta-maaf-rms-menuntut-sejarah-dibuka-kembali\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Republik Maluku Selatan\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2026-07-08T10:59:53+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2026-07-08T11:00:00+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/www.republikmalukuselatan.nl\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/tita-cache.jpeg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"1600\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"853\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"patrick.sijaranamual\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Ditulis oleh\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"patrick.sijaranamual\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Estimasi waktu membaca\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"9 menit\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/www.republikmalukuselatan.nl\/id\/interview-titastory-presiden-wattilete-belanda-meminta-maaf-rms-menuntut-sejarah-dibuka-kembali\/\",\"url\":\"https:\/\/www.republikmalukuselatan.nl\/id\/interview-titastory-presiden-wattilete-belanda-meminta-maaf-rms-menuntut-sejarah-dibuka-kembali\/\",\"name\":\"Interview Titastory & presiden Wattilete: Belanda Meminta Maaf, RMS Menuntut Sejarah Dibuka Kembali - Republik Maluku Selatan\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/www.republikmalukuselatan.nl\/ms\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/www.republikmalukuselatan.nl\/id\/interview-titastory-presiden-wattilete-belanda-meminta-maaf-rms-menuntut-sejarah-dibuka-kembali\/#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/www.republikmalukuselatan.nl\/id\/interview-titastory-presiden-wattilete-belanda-meminta-maaf-rms-menuntut-sejarah-dibuka-kembali\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\/\/www.republikmalukuselatan.nl\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/tita-cache.jpeg\",\"datePublished\":\"2026-07-08T10:59:53+00:00\",\"dateModified\":\"2026-07-08T11:00:00+00:00\",\"author\":{\"@id\":\"https:\/\/www.republikmalukuselatan.nl\/ms\/#\/schema\/person\/0aa634ac0e723df62569cb28725cc9de\"},\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/www.republikmalukuselatan.nl\/id\/interview-titastory-presiden-wattilete-belanda-meminta-maaf-rms-menuntut-sejarah-dibuka-kembali\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/www.republikmalukuselatan.nl\/id\/interview-titastory-presiden-wattilete-belanda-meminta-maaf-rms-menuntut-sejarah-dibuka-kembali\/\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\/\/www.republikmalukuselatan.nl\/id\/interview-titastory-presiden-wattilete-belanda-meminta-maaf-rms-menuntut-sejarah-dibuka-kembali\/#primaryimage\",\"url\":\"https:\/\/www.republikmalukuselatan.nl\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/tita-cache.jpeg\",\"contentUrl\":\"https:\/\/www.republikmalukuselatan.nl\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/tita-cache.jpeg\",\"width\":1600,\"height\":853},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/www.republikmalukuselatan.nl\/id\/interview-titastory-presiden-wattilete-belanda-meminta-maaf-rms-menuntut-sejarah-dibuka-kembali\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\/\/www.republikmalukuselatan.nl\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Interview Titastory &#038; presiden Wattilete: Belanda Meminta Maaf, RMS Menuntut Sejarah Dibuka Kembali\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/www.republikmalukuselatan.nl\/ms\/#website\",\"url\":\"https:\/\/www.republikmalukuselatan.nl\/ms\/\",\"name\":\"Republik Maluku Selatan\",\"description\":\"Pemerintah Darurat\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/www.republikmalukuselatan.nl\/ms\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/www.republikmalukuselatan.nl\/ms\/#\/schema\/person\/0aa634ac0e723df62569cb28725cc9de\",\"name\":\"patrick.sijaranamual\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\/\/www.republikmalukuselatan.nl\/ms\/#\/schema\/person\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/c66247b309af184cdff5f935b7335aed?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/c66247b309af184cdff5f935b7335aed?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"patrick.sijaranamual\"},\"url\":\"https:\/\/www.republikmalukuselatan.nl\/id\/author\/patrick-sijaranamual\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Interview Titastory & presiden Wattilete: Belanda Meminta Maaf, RMS Menuntut Sejarah Dibuka Kembali - Republik Maluku Selatan","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/www.republikmalukuselatan.nl\/id\/interview-titastory-presiden-wattilete-belanda-meminta-maaf-rms-menuntut-sejarah-dibuka-kembali\/","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Interview Titastory & presiden Wattilete: Belanda Meminta Maaf, RMS Menuntut Sejarah Dibuka Kembali - Republik Maluku Selatan","og_description":"Pada tanggal 5 Juli 2026, Titastory menerbitkan wawancara dengan presiden Wattilete mengenai permintaan maaf Perdana Menteri Belanda, Rob Jetten, kepada masyarakat Maluku. Kini, situs web Titastory telah ditangguhkan sehingga wawancara tersebut tidak lagi dapat diakses melalui sumber aslinya. Demi menjaga agar dokumen ini tetap lestari dan dapat diakses oleh masyarakat luas, Pemerintah Republik Maluku Selatan [&hellip;]","og_url":"https:\/\/www.republikmalukuselatan.nl\/id\/interview-titastory-presiden-wattilete-belanda-meminta-maaf-rms-menuntut-sejarah-dibuka-kembali\/","og_site_name":"Republik Maluku Selatan","article_published_time":"2026-07-08T10:59:53+00:00","article_modified_time":"2026-07-08T11:00:00+00:00","og_image":[{"width":1600,"height":853,"url":"https:\/\/www.republikmalukuselatan.nl\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/tita-cache.jpeg","type":"image\/jpeg"}],"author":"patrick.sijaranamual","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Ditulis oleh":"patrick.sijaranamual","Estimasi waktu membaca":"9 menit"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/www.republikmalukuselatan.nl\/id\/interview-titastory-presiden-wattilete-belanda-meminta-maaf-rms-menuntut-sejarah-dibuka-kembali\/","url":"https:\/\/www.republikmalukuselatan.nl\/id\/interview-titastory-presiden-wattilete-belanda-meminta-maaf-rms-menuntut-sejarah-dibuka-kembali\/","name":"Interview Titastory & presiden Wattilete: Belanda Meminta Maaf, RMS Menuntut Sejarah Dibuka Kembali - Republik Maluku Selatan","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.republikmalukuselatan.nl\/ms\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/www.republikmalukuselatan.nl\/id\/interview-titastory-presiden-wattilete-belanda-meminta-maaf-rms-menuntut-sejarah-dibuka-kembali\/#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/www.republikmalukuselatan.nl\/id\/interview-titastory-presiden-wattilete-belanda-meminta-maaf-rms-menuntut-sejarah-dibuka-kembali\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.republikmalukuselatan.nl\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/tita-cache.jpeg","datePublished":"2026-07-08T10:59:53+00:00","dateModified":"2026-07-08T11:00:00+00:00","author":{"@id":"https:\/\/www.republikmalukuselatan.nl\/ms\/#\/schema\/person\/0aa634ac0e723df62569cb28725cc9de"},"breadcrumb":{"@id":"https:\/\/www.republikmalukuselatan.nl\/id\/interview-titastory-presiden-wattilete-belanda-meminta-maaf-rms-menuntut-sejarah-dibuka-kembali\/#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/www.republikmalukuselatan.nl\/id\/interview-titastory-presiden-wattilete-belanda-meminta-maaf-rms-menuntut-sejarah-dibuka-kembali\/"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.republikmalukuselatan.nl\/id\/interview-titastory-presiden-wattilete-belanda-meminta-maaf-rms-menuntut-sejarah-dibuka-kembali\/#primaryimage","url":"https:\/\/www.republikmalukuselatan.nl\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/tita-cache.jpeg","contentUrl":"https:\/\/www.republikmalukuselatan.nl\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/tita-cache.jpeg","width":1600,"height":853},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/www.republikmalukuselatan.nl\/id\/interview-titastory-presiden-wattilete-belanda-meminta-maaf-rms-menuntut-sejarah-dibuka-kembali\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/www.republikmalukuselatan.nl\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Interview Titastory &#038; presiden Wattilete: Belanda Meminta Maaf, RMS Menuntut Sejarah Dibuka Kembali"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/www.republikmalukuselatan.nl\/ms\/#website","url":"https:\/\/www.republikmalukuselatan.nl\/ms\/","name":"Republik Maluku Selatan","description":"Pemerintah Darurat","potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/www.republikmalukuselatan.nl\/ms\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"id"},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/www.republikmalukuselatan.nl\/ms\/#\/schema\/person\/0aa634ac0e723df62569cb28725cc9de","name":"patrick.sijaranamual","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.republikmalukuselatan.nl\/ms\/#\/schema\/person\/image\/","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/c66247b309af184cdff5f935b7335aed?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/c66247b309af184cdff5f935b7335aed?s=96&d=mm&r=g","caption":"patrick.sijaranamual"},"url":"https:\/\/www.republikmalukuselatan.nl\/id\/author\/patrick-sijaranamual\/"}]}},"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/www.republikmalukuselatan.nl\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/tita-cache.jpeg","jetpack_sharing_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.republikmalukuselatan.nl\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/8212","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.republikmalukuselatan.nl\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.republikmalukuselatan.nl\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.republikmalukuselatan.nl\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/4"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.republikmalukuselatan.nl\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=8212"}],"version-history":[{"count":4,"href":"https:\/\/www.republikmalukuselatan.nl\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/8212\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":8225,"href":"https:\/\/www.republikmalukuselatan.nl\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/8212\/revisions\/8225"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.republikmalukuselatan.nl\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/8219"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.republikmalukuselatan.nl\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=8212"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.republikmalukuselatan.nl\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=8212"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.republikmalukuselatan.nl\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=8212"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}